privacy-pollicy

Wednesday

Jurnal Penelitian: Evolusi Lari dari Masa Prasejarah hingga Modern

 

Abstrak

Lari merupakan aktivitas fisik fundamental bagi manusia yang telah berkembang dan beradaptasi selama ribuan tahun. Jurnal penelitian ini menelusuri evolusi lari dari masa prasejarah hingga modern, meninjau temuan arkeologi, antropologi, dan fisiologi untuk memahami bagaimana kemampuan lari manusia telah berubah dan disempurnakan.

Pendahuluan

Lari adalah bentuk lokomotor bipedal yang memungkinkan manusia bergerak dengan cepat dan efisien. Kemampuan ini telah memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup dan evolusi manusia, memungkinkan kita untuk berburu mangsa, melarikan diri dari predator, dan menjelajahi jarak jauh.

Evolusi Anatomi untuk Lari

Bukti arkeologi menunjukkan bahwa manusia purba sudah mampu berlari sejak zaman Paleolitikum. Kaki manusia modern telah beradaptasi untuk lari dengan beberapa ciri khas, seperti:

  • Lengkungan kaki yang tinggi: Memberikan bantalan dan dorongan yang kuat saat berlari.
  • Jari kaki yang panjang dan kuat: Membantu mencengkeram tanah dan mendorong saat berlari.
  • Otot paha yang besar: Menghasilkan kekuatan yang diperlukan untuk berlari cepat.
  • Tulang pinggul yang lebar: Memberikan stabilitas dan keseimbangan saat berlari.

Perkembangan Lari dalam Sejarah

Seiring perkembangan peradaban manusia, lari juga mengalami evolusi dalam hal tujuan dan penggunaannya. Di masa prasejarah, lari digunakan terutama untuk berburu dan melarikan diri dari predator. Namun, seiring waktu, lari mulai digunakan untuk tujuan lain, seperti:

  • Perang: Prajurit menggunakan lari untuk mengejar dan menyerang musuh.
  • Upacara keagamaan: Lari digunakan sebagai bagian dari ritual dan perayaan.
  • Olahraga: Lari menjadi bagian dari kompetisi atletik di berbagai budaya.

Penemuan Sepatu dan Teknologi Lari

Penemuan sepatu dan teknologi lari lainnya telah memainkan peran penting dalam meningkatkan performa dan kenyamanan lari. Sepatu lari modern dirancang untuk memberikan bantalan, dukungan, dan stabilitas yang optimal bagi pelari. Teknologi baru, seperti alas kaki yang responsif dan bahan yang ringan, terus dikembangkan untuk meningkatkan performa lari.

Kesimpulan

Lari merupakan aktivitas fisik yang kompleks dan telah berkembang selama ribuan tahun. Evolusi lari didorong oleh faktor biologis, budaya, dan teknologi. Pemahaman tentang evolusi lari dapat membantu kita dalam memahami kemampuan fisik manusia dan meningkatkan performa lari di masa depan.

Daftar Pustaka

  1. Bramble, D. M., & Lieberman, D. E. (2004). Endurance running and the evolution of Homo. Nature, 432(7015), 345-352.
  2. Noakes, T. (2001). The Lore of Running. Human Kinetics.
  3. MacDougall, C. (2009). Born to Run: A Hidden Tribe, Superathletes, and the Greatest Race the World Has Never Seen. Knopf.

Catatan:

Jurnal penelitian ini hanya memberikan gambaran umum tentang evolusi lari. Untuk informasi lebih detail, Anda dapat merujuk pada sumber-sumber yang tercantum dalam daftar pustaka.

Saturday

Situs Manusia Purba Sangiran: Warisan Dunia dan Kaitan dengan Lari sebagai Mekanisme Purba

 



Pengenalan Situs Manusia Purba Sangiran

Situs Manusia Purba Sangiran adalah salah satu situs arkeologi terpenting di dunia yang terletak di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Situs ini telah diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1996 karena kekayaannya dalam memberikan informasi tentang evolusi manusia. Situs ini mencakup area seluas sekitar 56 km² dan merupakan salah satu situs fosil manusia purba terlengkap di dunia.

Penemuan dan Pentingnya Situs Sangiran

Penelitian di Sangiran dimulai pada abad ke-19 dan menemukan fosil-fosil Homo erectus yang hidup sekitar 1,5 juta hingga 200.000 tahun yang lalu. Fosil-fosil ini memberikan wawasan penting tentang evolusi manusia dan bagaimana Homo erectus beradaptasi dengan lingkungannya. Sangiran juga menyimpan berbagai artefak budaya seperti alat-alat batu yang digunakan oleh manusia purba untuk berburu dan bertahan hidup.

Lari sebagai Mekanisme Purba

Lari telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia sejak zaman purba. Pada masa Homo erectus, kemampuan berlari memiliki peran penting dalam bertahan hidup dan mencari makan.

  1. Berburu dan Mencari Makan: Homo erectus dikenal sebagai pemburu-pengumpul. Mereka harus berlari cepat untuk mengejar hewan buruan. Lari jarak jauh memungkinkan mereka mengejar hewan sampai kelelahan sebelum menangkapnya. Strategi ini dikenal sebagai "persistence hunting" atau berburu dengan ketahanan.

  2. Menghindari Predator: Lari juga menjadi mekanisme penting untuk menghindari predator. Kecepatan dan ketahanan dalam berlari membantu manusia purba melarikan diri dari hewan pemangsa yang lebih besar dan lebih kuat.

  3. Eksplorasi dan Migrasi: Lari membantu manusia purba dalam menjelajahi wilayah baru. Mereka bisa menempuh jarak yang jauh untuk mencari sumber makanan baru dan lingkungan yang lebih aman. Hal ini juga mendukung migrasi manusia purba dari Afrika ke berbagai benua.

Hubungan Lari dan Situs Sangiran

Kaitan antara lari dan situs Sangiran dapat dilihat dari dua perspektif utama:

  1. Adaptasi Fisiologis: Fosil-fosil Homo erectus yang ditemukan di Sangiran menunjukkan adaptasi fisiologis yang memungkinkan mereka menjadi pelari jarak jauh yang efisien. Bentuk tulang kaki dan panggul Homo erectus menunjukkan kemampuan mereka untuk berlari jarak jauh dengan efisien. Hal ini mengindikasikan pentingnya lari dalam kehidupan sehari-hari mereka.

  2. Warisan Budaya dan Sejarah: Melalui situs Sangiran, kita dapat memahami bagaimana lari berperan penting dalam evolusi manusia. Warisan ini tidak hanya tentang fosil dan artefak, tetapi juga tentang bagaimana mekanisme lari berperan dalam keberlangsungan hidup manusia purba. Aktivitas fisik seperti lari masih relevan hingga saat ini, tidak hanya sebagai olahraga tetapi juga sebagai cara untuk menghubungkan kita dengan leluhur kita yang hidup di Sangiran.

Kesimpulan

Situs Manusia Purba Sangiran adalah jendela penting untuk memahami evolusi manusia dan peran adaptasi fisik seperti lari dalam bertahan hidup. Lari sebagai mekanisme purba memberikan wawasan tentang bagaimana Homo erectus menggunakan kemampuan ini untuk berburu, menghindari predator, dan menjelajahi wilayah baru. Situs Sangiran tidak hanya menyimpan fosil dan artefak, tetapi juga cerita tentang ketahanan dan adaptasi manusia yang telah diwariskan hingga hari ini. Dengan memahami warisan ini, kita dapat lebih menghargai pentingnya lari dalam sejarah panjang evolusi manusia.

Menyingkap Masa Lalu dengan Teknologi Masa Depan

Arkeologi di Indonesia memasuki era baru dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Teknologi canggih ini membuka peluang menarik untuk menggali lebih dalam kekayaan sejarah dan budaya bangsa.
Salah satu contoh penerapan AI yang menarik adalah dalam penemuan situs arkeologi baru. Algoritma AI dapat menganalisis data citra satelit dan LiDAR untuk mengidentifikasi pola-pola yang mungkin menunjukkan keberadaan situs arkeologi tersembunyi. Hal ini membantu para arkeolog untuk fokus pada area yang paling menjanjikan, sehingga menghemat waktu dan sumber daya.
AI juga membantu pelestarian artefak. Algoritma machine learning dapat digunakan untuk mengklasifikasikan artefak secara otomatis, membuat katalog, dan bahkan merekonstruksi artefak yang rusak. Hal ini membantu para arkeolog untuk memahami dan memelihara artefak dengan lebih baik.
Berikut beberapa contoh penerapan AI dalam arkeologi Indonesia:
 * Penemuan pemukiman kuno di Madagaskar menggunakan algoritme prediktif yang dilatih pada data LiDAR.
 * Pemetaan struktur bawah tanah di Candi Borobudur menggunakan teknologi radar penembus tanah (GPR) dan AI.
 * Rekonstruksi wajah dari tengkorak kuno menggunakan teknik pemodelan 3D dan AI.
Penerapan AI dalam arkeologi Indonesia masih dalam tahap awal, namun potensinya sangatlah besar. Teknologi ini dapat membantu para arkeolog untuk:
 * Meningkatkan efisiensi dan efektivitas penelitian
 * Menemukan penemuan baru yang penting
 * Melestarikan artefak dan situs arkeologi
 * Mempublikasikan hasil penelitian kepada masyarakat luas
AI membuka peluang baru yang menarik untuk mempelajari masa lalu Indonesia. Dengan teknologi ini, kita dapat lebih memahami sejarah dan budaya bangsa, dan melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang.
Sumber:
 * https://o-date.github.io/draft/book/artificial-intelligence-in-digital-archaeology.html
 * https://www.flexsin.com/blog/big-data-and-business-intelligence-revolutionizing-the-business-world/
 * https://www.kompas.com/sains/read/2022/06/17/100200223/kecerdasan-buatan-bantu-ungkap-penggunaan-awal-api-seperti-apa-?page=all

Friday

Peran AI dalam Arkeologi di Era Digital

 

ilustarasi Situs Purbakala yang di hasilkan oleh AI


Memperingati Hari Purbakala Nasional ke-111, mari kita selami perpaduan memukau antara warisan kuno dengan kemajuan teknologi terkini. Era digital telah membuka gerbang baru dalam dunia arkeologi, di mana kecerdasan buatan (AI) berperan sebagai kunci untuk membuka misteri masa lampau.

AI bagaikan lentera yang menerangi jalan para arkeolog, membekali mereka dengan berbagai alat canggih untuk menjelajahi dan menganalisis data dengan lebih mendalam dan efisien. Berikut beberapa contoh penerapan AI yang merevolusi bidang arkeologi:

1. Penggalian Virtual:

AI memungkinkan arkeolog untuk memindai situs purbakala secara 3D, menciptakan replika digital yang presisi. Hal ini membuka peluang bagi para peneliti untuk menjelajahi situs yang berbahaya atau sulit diakses secara fisik, tanpa risiko kerusakan. Teknologi seperti LiDAR dan fotogrametri menghasilkan peta 3D yang detail, memungkinkan analisis yang lebih komprehensif dan akurat.

2. Identifikasi Artefak:

AI berperan penting dalam mengklasifikasikan dan mengidentifikasi artefak, menghemat waktu dan tenaga para arkeolog. Algoritma pembelajaran mesin mampu menganalisis gambar dan pola artefak, mencocokkannya dengan database temuan sebelumnya. Hal ini membantu para peneliti dalam memahami fungsi dan makna artefak, serta mengungkap hubungan antar budaya.

3. Rekonstruksi Wajah:

Teknik AI seperti rekonstruksi wajah forensik memungkinkan para arkeolog untuk merekonstruksi wajah dari tengkorak, memberikan gambaran tentang penampilan manusia purba. Teknologi ini membantu para peneliti dalam mempelajari evolusi manusia, pola migrasi, dan bahkan mengidentifikasi individu dari sisa-sisa kerangka.

4. Analisis Teks Kuno:

AI membantu menerjemahkan dan memahami teks-teks kuno yang ditulis dalam bahasa yang telah punah. Algoritma pemrosesan bahasa alami mampu mengenali pola dan struktur bahasa, menerjemahkannya ke dalam bahasa modern, dan bahkan mengidentifikasi makna tersembunyi dalam teks. Hal ini membuka jendela baru untuk memahami peradaban kuno, kepercayaan, dan sejarah mereka.

5. Prediksi Penemuan Baru:

AI dapat memprediksi lokasi situs purbakala yang potensial, berdasarkan analisis data geologi, topografi, dan temuan sebelumnya. Teknologi ini membantu para arkeolog dalam mengoptimalkan upaya penelitian mereka dan meningkatkan peluang penemuan yang signifikan.

Penerapan AI dalam arkeologi masih terus berkembang, membuka cakrawala baru dalam memahami masa lalu. Kolaborasi antara para arkeolog dan pakar AI akan terus melahirkan inovasi dan penemuan yang revolusioner, membawa kita lebih dekat dengan peradaban kuno dan kisah-kisah mereka yang terpendam.

Hari Purbakala Nasional ini menjadi momen penting untuk merayakan kemajuan teknologi dan potensinya dalam memajukan ilmu arkeologi. Mari kita terus mendukung penelitian dan pengembangan AI di bidang ini, membuka gerbang masa lalu dengan kunci kecerdasan masa depan

Thursday

KISAH LEGENDA EMPAT RAJA



Terdapat beberapa versi cerita mengenai asal-usul nama Raja Ampat yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi di dalam kehidupan masyarakat asli kepulauan Raja Ampat. Salah satu versi dari cerita ini adalah sebagai berikut:
Pada suatu saat di Teluk Kabui Kampung Wawiyai ada sepasang suami istri pergi ke hutan (sebagai perambah hutan) untuk mencari makanan, ketika mereka tiba di tepi Sungai Waikeo(Wai artinya air, kew artinya teluk) mereka menemukan enam butir telur naga. Telur-telur tersebut disimpan dalam noken (kantong) dan dibawa pulang, sesampainya di rumah telur-telur tersebut disimpan dalam kamar. Ketika malam hari mereka mendengar suara bisik-bisik, betapa kagetnya mereka ketika mereka melihat di dalam kamar ternyata ke-lima butir telur telah menetas berwujud empat anak laki-laki dan satu anak perempuan, semuanya berpakaian halus yang menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan raja.
Sampai saat ini belum jelas siapa yang memberikan nama kepada anak-anak tersebut tapi kemudian diketahui bahwa masing-masing anak bernama :
  1. War menjadi Raja di Waigeo.
  2. Betani menjadi Raja di Salawati.
  3. Dohar menjadi Raja di Lilinta (Misool)
  4. Mohamad menjadi Raja di Waigama (Batanta)
Sedangkan anak yang perempuan (bernama Pintolee), pada suatu ketika anak perempuan tersebut diketahui sedang hamil dan oleh kakak-kakaknya Pintolee diletakkan dalam kulit bia(kerang) besar kemudian dihanyutkan hingga terdampar di Pulau Numfor. Satu telur lagi tidak menetas dan menjadi batu yang diberi nama Kapatnai dan diperlakukan sebagai raja bahkan di beri ruangan tempat bersemayam lengkap dengan dua batu yang berfungsi sebagai pengawal di kanan-kiri pintu masuk bahkan setiap tahunnya dimandikan dan air mandinya disiramkan kepada masyarakat sebagai babtisan untuk Suku Kawe. Tidak setiap saat batu tersebut bisa dilihat kecuali satu tahun sekali yaitu saat dimandikan.
Oleh karena masyarakat sangat menghormati keberadaan telur tersebut maka dibangunlah sebuah rumah ditepi Sungai Waikeo sebagai tempat tinggalnya dan hingga kini masih menjadi objek pemujaan masyarakat. (Sumber: Korneles Mambrasar)

SEJARAH RAJA AMPAT

Di tinjau dari sisi sejarah,  Kepulauan Raja Ampat di abad ke 15 merupakan bagian dari kekuasaan Kesultanan Tidore, sebuah kerajaan besar yang berpusat di Kepulauan Maluku. Untuk menjalankan pemerintahannya, Kesultanan Tidore ini menunjuk 4 orang Raja lokal untuk berkuasa di pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool yang merupakan 4 pulau terbesar dalam jajaran kepulauan Raja Ampat sampai sekarang ini.  Istilah 4 orang Raja dalam yang memerintah di gugusan kepulauan itulah yang menjadi awal dari nama Raja Ampat.
Kabupaten yang memperingati Hari Ulang Tahun setiap tanggal 9 Mei ini sekarang merupakan sebuah Kabupaten di Propinsi Papua Barat yang dimekarkan dari Kabupaten Sorong pada tahun 2003. Bila kita lihat peta Propinsi Papua Barat maka letak Kabupaten ini terletak di kepulauan sebelah barat paruh burung pulau papua. Kabupaten Raja Ampat terdiri dari kurang lebih 610 pulau yang memiliki panjang total tepi pantai 753 km. Pusat pemerintahan dan sekaligus Ibukota bagi Kabupaten Raja Ampat adalah sebuah kota yang terletak di Pulau Waigeo, yaitu kota Waisai. (wbp)
sumber : http://www.gorajaampat.com

Wednesday

SEJARAH LUWUK/KABUPATEN BANGGAI

Kota Luwuk, Bangai

Di daerah yang sekarang kita kenal sebagai Kabupaten Banggai pernah berdiri kerajaan-kerajaan kecil. Yang tertua bernama Kerajaan bersaudara Buko – Bulagi. Letak Kerajaan Buko – Bulagi berada di Pulau Peling belahan barat. Kemudian muncul kerajaan-kerajaan baru seperti, Kerajaan Sisipan, Kerajaan Liputomundo, dan Kadupang. Semuanya berada di Pulau Peling bagian tengah, (sekarang Kecamatan Liang). Sementara di bagian sebelah timur dari Pulaua Peling (sekitar Kecamatan Tinangkung dan Totikum) waktu  itu sudah berdiri sebuah kerajaan yang agak besar, yakni Kerajaan Bongganan.
Upaya untuk memekarkan Kerajaan Bongganan dilakukan pangeran dan beberapa bangsawan kerajaan akhirnya membuahkan hasil. Bila sebelumnya wilayah Kerajaan Banggai hanya meliputi Pulau Banggai, kemudian dapat diperlebar.

Di Banggai Darat (Kabupaten Banggai), waktu itu sudah berdiri Kerajaan  Tompotika yang berpusat di sebelah utara (Kecamatan Bualemo). Dibagian selatan ada kerajaan tiga bersaudara Motiandok, Balalowa dan Gori-Gori.


Raja Bangai
Perkembangan Kerajaan Banggai yang ketika itu masih terpusat di Pulau Banggai, mulai pesat dan menjadi Primus Inter Pares atau yang utama dari beberapa kerajaan yang ada, sewaktu pemerintahan Kerajaan Banggai berada dibawah pembinaan Kesultanan Ternate akhir abad 16.

Wilayah Kerajaan Banggai  pada tahun 1580-an hanya meliputi Pulau Banggai, kemudian diperluas sampai ke Banggai Darat, hingga ke Tanjung Api, Sungai Bangka dan Tongung Sagu yang terletak di sebelah Selatan Kecamatan Batui. Perluasan wilayah Kerajaan Banggai dilakukan oleh Adi Cokro yang bergelar Mumbu Doi Jawa pad abad ke 16.  Istilah “Mumbu Doi” berarti yang wafat atau mangkat, khusus dipakai untuk raja-raja Banggai atau yang tertinggi derajatnya.

Adi Cokro merupakan seorang bangsawan dari Pulau Jawa yang mengabdikan diri kepada Sultan Baab-Ullah dari Ternate.  Di tangan Adi Cokro kerajaan-kerajaan Banggai mampu dipersatukan hingga akhirnya ia dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banggai. Adi Cokro tercatat pula sebagai orang yang memasukan agama Islam ke Banggai. Hal tersebut sebagaimana ditulis Albert C.Kruyt dalam bukunya De Vorsten Van Banggai (Raja-raja Banggai).

Adi Cokro bergelar Mumbu Doi Jawa, yang dalam dialeg orang Banggai disebut Adi Soko,  mempersunting seorang wanita asal Ternate berdarah Portugis bernama Kastellia (Kastella). Perkawinan Adi Cokro dengan Kastellia melahirkan putra bernama Mandapar yang kemudian menjadi Raja Banggai. Istilah “Adi” merupakan gelar bangsawan bagi raja-raja Banggai, hal tersebut sama dengan gelar RM (Raden Mas) untuk bangsawan Jawa atau Andi bagi  bangsawan Bugis.

Karena Kerajaan Banggai dikuasai oleh Kerajaan Ternate, sementara Kerajaan Ternate ditaklukan Bangsa Portugis, otomatis Kerajaan Banggai berada dibawah kekuasaan Bangsa Portugis. Bukti, itu setidaknya dapat dilihat dengan ditemukannya sisa-sisa peninggalan Bangsa Portugis di daerah ini diantaranya meriam kuno atau benda peninggalan lainnya.

Tahun 1532 P.A. Tiele pernah menulis dalam bukunya De Europeers in den Maleischen Archipel, di sana disebutkan, bahwa pada tahun 1532  Laksmana Andres de Urdanette yang berbangsa Spanyol dan  merupakan sekutu (kawan) dari Sultan Jailolo, pernah mengunjungi wilayah Sebelah Timur Pulau Sulawesi (Banggai). Andres de Urdanette merupakan orang barat pertama yang  menginjakkan kaki di Banggai. Sedang orang  Portugis yang pertama kali datang ke Banggai bernama Hernando de Biautamente tahun 1596.

Tahun 1596 Pelaut Belanda yang sangat terkenal bernama Cornelis De Houtman  datang ke Indonesia. Menariknya, pada tahun 1594 atau dua tahun sebelum datang ke Indonesia Cornelis de Houtman sudah menulis tentang Banggai.

Ketika Adi Cokro yang bergelar Mumbu Doi Jawa, kembali ke tanah Jawa dan wafat di sana, tampuk Kerajaan Banggai dilanjutkan oleh Mandapar dengan gelar Mumbu Doi Godong. Mandapar dilantik sebagai raja Banggai pada tahun 1600. di Ternate oleh Sultan Said Uddin Barkat Syah.

Tahun 1602 Belanda datang ke Indonesia dan mendirikan Vereeniging Oost Indische Compagnie (VOC) yang merupakan Kongsi Dagang Belanda untuk perdagangan di Hindia Timur (Indonesia).

Kesaksian salah seorang pelaut bangsa Inggris bernama David Niddelleton yang pernah dua kali datang ke Banggai menyebutkan. Pengaruh VOC di Banggai sudah ada sejak Raja Mandapar memimpin Banggai.  Kerajaan Banggai pernah dikuasai Ternate. Namun setelah Kerajaan Ternate dapat ditaklukkan dan direbut oleh Sultan Alauddin dari Kerajaan Gowa (Sulawesi Selatan) maka Banggai ikut menjadi bagian dari Kerajaan Gowa. Dalam sejarah tercatat Kerajaan Gowa sempat berkembang dan mempunyai pengaruh yang sangat besar dan kuat di Indonesia Timur.

Kerajaan Banggai berada di bawah pemerintahan Kerajaan Gowa berlangsung sejak tahun 1625-1667.  Pada tahun 1667 dilakukankah  penjanjian Bongaya yang sangat terkenal antara Sultan  Hasanuddin dari Kerajaan Gowa dengan Laksamana Speelman dari Belanda. Isi dari perjanjian itu antara lain menyebutkan. Sultan Hasanuddin melepaskan semua wilayah yang tadinya masuk dalam kekuasaan Kerajaan Ternate seperti, Selayar, Muna, Manado, Banggai, Gapi (Pulau Peling), Kaidipan, Buol Toli-Toli, Dampelas, Balaesang, Silensak dan Kaili.

Pada saat Sultan Hasanuddin memimpin ia berulang kali melakukan perlawanan terhadap Belanda. Hasanuddin dikenal sebagai raja yang sengit melawan Belanda. Bentuk perjuangan yang dilakukan Hasanuddin ternyata memberikan pengaruh tersendiri bagi Raja Banggai ke-4, yakni Raja Mbulang dengan gelar Mumbu Doi Balantak (1681-1689) hingga Mbulan memberontak terhadap Belanda.

Sebenarnya Mbulang Doi Balantak menolak untuk berkongsi dengan VOC lantaran monopoli dagang yang diterapkan Belanda hanya menguntungkan Belanda sementara rakyatnya diposisi merugi. Tapi apa hendak dikata. Karena  desakan Sultan Ternate yang menjadikan Kerajaan Banggai sebagai bagian dari taklukkannya, dengan terpaksa Mbulang Doi Balantak tidak dapat menghindar dari perjanjian yang dibuat VOC (Belanda).

Tahun 1741 tepatnya tanggal 9 Nopember perjanjian antara VOC dengan Mbulang Doi Balantak diperbarui oleh  Raja Abu Kasim yang bergelar Mumbu Doi Bacan. Meski perjanjian telah diperbaharui oleh Abu Kasim, tetapi secara sembunyi-sembunyi Abu Kasim menjalin perjanjian kerjasama baru dengan Raja Bungku.itu dilakukan Abu Kasim dengan target ingin melepaskan diri dari Kerajaan Ternate. Langkah yang ditempuh Abu Kasim ini dilakukan karena melihat beban yang dipikul rakyat Banggai sudah sangat berat karena selalu dirugikan VOC. Tahu Raja Abu Kasim menjalin kerjasama dengan Raja Bungku, akhirnya VOC jadi berang (marah). Abu Kasim lantas ditangkap dan dibuang ke Pulau Bacan (Maluku Utara), hingga akhirnya meninggal di sana.

Usaha Raja-Raja Banggai untuk melepaskan diri dari belenggu Kerajaan Ternate berulang kali dilakukan. Dan kejadian serupa dilakukan Raja Banggai ke 9 bernama Atondeng yang bergelar Mumbu Doi Galela (1808-1829). Serupa dengan raja-raja Banggai sebelumnya,  Atondeng juga melakukan perlawanan kepada Kesultanan Ternate. Sebenarnya perlawanan Atondeng ditujukan kepada VOC (Belanda). Karena Atondeng menilai perjanjian yang dibuat selama ini hanya menguntungkan Hindia Belanda dan menjepit rakyatnya. Karena itulah Atondeng berontak. Karena perlawanan Atondeng kurang seimbang. Atondeng kemudian ditangkap dan dibuang  ke Galela (Pulau Halmahera).

Setelah Atondeng “dibuang” ke Halmahera, Kerajaan Banggai kemudian dipimpin Raja Agama, bergelar Mumbu Doi Bugis. Memerintah tahun 1829-1847. Raja Agama sempat melakukan perlawanan yang sangat heroik dalam perang Tobelo yang sangat terkenal. Tetapi karena Kerajaan Ternante didukung armada laut yang “modern” akhirnya mereka berhasil mematahkan perlawanan Raja Agama. Pusat perlawanan Raja Agama dilakukan dari “Kota Tua” Banggai (Lalongo). Dalam perang Tobelo,  Raja Agama sempat dikepung secara rapat oleh musuh. Berkat bantuan rakyat yang sangat mencintainya,  Raja Agama dapat diloloskan dan diungsikan ke wilayah Bone Sulawesi Selatan, sampai akhirnya wafat di sana tahun 1874.

Setelah Raja Agama hijrah ke Bone, sebagai pengganti munculah dua bersaudara  Lauta dan Taja. Kepemimpinan Raja Lauta dan Raja Taja tidak berlangsung lama. Meski hanya sebentar memimpin tetapi keduanya sempat melakukan perlawanan, hingga akhirnya Raja Lauta  dibuang ke Halmahera sedang Raja Taja diasingkan  ke Pulau Bacan, Maluku Utara.

Dalam Pemerintahan Kerajaan Banggai, sejak dulunya sudah dikenal sistem demokrasi. Dimana dalam menjalankan roda pemerintahan raja akan dibantu oleh staf eksekutif atau dewan menteri yang dikenal dengan sebutan komisi empat, yaitu :

1.  Mayor Ngopa atau Raja Muda

2.  Kapitan Laut atau Kepala Angkatan Perang

3.  Jogugu atau Menteri Dalam Negeri

4.  Hukum Tua atau Pengadilan

Penunjukkan dan pengangkatan komisi empat, dilakukan langsung oleh raja yang tengah bertahta. Sementara badan yang berfungsi selaku Legislatif disebut Basalo Sangkap. Terdiri dari Basalo Dodonung, Basalo Tonobonunungan, Basalo Lampa, dan Basalo Ganggang.

Basalo Sangkap diketuai oleh Basalo Dodonung, dengan tugas melakukan pemilihan setiap bangsawan untuk menjadi raja. Demikian pula untuk melantik seorang raja dilakukan dihadapan Basalo Sangkap.

Basalo Sangkap yang akan melantik raja, lalu akan meriwayatkan secara teratur sejarah raja-raja Banggai. Berurut, kemudian disebutkanlah calon raja yang akan dilantik, yang kepadanya dipakaikan mahkota kerajaan. Dengan begitu, raja tersebut akan resmi menjadi Raja  Kerajaan Banggai.

Silsilah raja-raja Banggai disebutkan sebagai berikut : 1. Mandapar dengan gelar Mumbu Doi Godong, 2. Mumbu Doi Kintom, 3. Mumbu Doi Balantak, 4. Mumbu Doi Benteng, 5. Mumbu Doi Mendono, 6. Abu Kasim, 7. Mumbu Doi Pedongko, 8. Manduis, 9. Atondeng, 10. Agama, 11.Lauta, 12.Taja, 13.Tatu Tanga, 14. Saok, 15. Nurdin, 16.Abdul Azis, 17. Abdul Rahman, 18. Haji Awaluddin, 19. Haji Syukuran Aminuddin Amir.

SEBELUM KEMERDEKAAN :

Meski kehadiran Vereeniging Oost Indische Compagnie (VOC) atau gabungan perusahaan dagang Belanda untuk perdagangan di Hindia Belanda (Indonesia) di Indonesia sudah ada sejak tahun 1602, tetapi peranan VOC dalam monopoli perdagangan di Wilayah Kerajaan Banggai baru diakui  pada zaman Kerajaan Banggai dipimpin Raja Nurdin yang berkuasa tahun 1870-1880.

Tahun 1908 Landschaap Banggai digabung dengan Onderploging yang berkedudukan di Bau-Bau, Pulau Buton (Bau). Empat tahun berikutnya Onderploging yang berkedudukan di Bau-Bau, dipecah menjadi dua bagian, meliputi Banggai Darat dan Banggai Kepulauan, masing-masing berkedudukan di Luwuk dan Banggai. Meski demikian Raja Banggai dan pemerintah Hindia Belanda tetap berada di Banggai.

Setahun berikutnya peran komisi empat diperluas dan difungsikan. Pertama Mayor Ngopa, berkedudukan di Pagimana, memegang wilayah Kecamatan Pagimana dan Bunta. Kedua, Kapitan Laut berdomisili di Luwuk, membawahi wilayah Kintom, Lamala, Batui dan Balantak. Ketiga, Jogugu berkedudukan di Banggai meliputi Wilayah Labobo Bangkurung. Keempat, Hukum Tua, wilayah meliputi Tinangkung, Buko, Totikum dan Liang berkedudukan di Salakan. Namun semua itu tidak berlangsung lama. Karena, pada tahun 1924 Banggai Darat dan Banggai Kepulauan bersatu kembali, setelah dialihkan dari Ofdeling Ost Celebes kemudian dibubarkan dengan Afdeling Poso yang waktu itu termasuk Keresidenan Manado berdasarkan Stbld 1224 No.365 yo 366.

Di Kecamatan Balantak ketika itu  tercatat, telah terjadi perlawanan rakyat, dipimpin raja yang bernama Laginda. Tidak jelas perlawanan itu timbul. Tapi yang diketahui berikutnya, karena peperangan tidak seimbang, sehingga pemerintah Hindia Belanda mampu memadamkannya.

Campur tangan Pemerintah Hindia Belanda terakhir di Banggai setelah masuknya Tentara Dai Nipon (Jepang) ke Indonesia. Selama hampir tiga tahun pendudukan Jepang, tidak banyak yang dapat diketahui.

Ada satu cacatan menarik dari Raja Banggai terakhir Syukuran Aminuddin Amir yang memerintah dari tahun 1941 hingga tahun 1959. Yakni, Raja Syukuran Amir berhasil menempatkan seorang pejabatnya di Luwuk dengan sebutan Ken Kariken, sedang di Bangai Kepulauan disebut Bun Kanken. Demikian pula atas titah Raja Haji Syukuran Aminuddin Amir, Ibukota Kerajaan Banggai yang semula berada di Kota Banggai (Banggai Kepulauan) dipindah ke Banggai Darat (Kota Luwuk). Kekuasaan Jepang di Indonesia berakhir bersamaan dengan jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Hirosima yang dilakukan Sekutu.

SETELAH KEMERDEKAAN :

Meski kemerdekaan Republik Indonesia (RI) 17 Agustus 1945 telah diproklamasikan di Jakarta, tetapi tentara Belanda yang membenceng Sekutu datang kembali ke Indonesia. Dalilnya, yakni untuk meletakkan dasar pemerintahan secara definitif (negara bagian), sehingga melahirkan Negara Indonesia Timur (NIT).

Negara Indonesia Timur tersebut dibagi menjadi 13 daerah otonom, termasuk Sulawesi Tengah dengan Ibukota Poso. Dalam Konperensi Meja Bundar (KMB) di Denhaag Negeri Belanda tahun 1949, delegasi Indonesia yang diwakili Mr Muhamad Yamin, telah membahas dan menyusun konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS). Bahasan akhirnya memutuskan bahwa Zelfbosturande Lanschaap diganti dengan Swapraja. Dengan demikian, Lanschaap Banggai dihapus, dan ini berlaku di seluruh tanah air Indonesia.

SK Gubernur No.633 tahun 1951, daerah Sulawesi Tengah dibagi menjadi dua wilayah administrasi yaitu Donggala dan Poso. Satu bulan kemudian atas kehendak rakyat, daerah otonom bentukan NIT dihapus berganti dengan daerah dalam negara kesatuan RI. Dasar tersebut, maka diturunkan peraturan Pemerintah No.33 Tahun 1952, tanggal 12 Agustus 1952, daerah otonom federasi Kerajaan Banggai dihapus pula menjadi dua kabupaten (Daswati II). Masing-masing, Kabupaten Donggala beribukota Donggala dan Poso  yang berkedudukan di Poso. Sedangkan Swapraja Banggai termasuk bagian dari Kabupaten Poso.

TERBENTUKNYA KABUPATEN BANGGAI :

Ide pembentukan Daerah Kabupaten Banggai pada awalnya lahir setelah adanya tuntutan beberapa partai politik. Namun belum melalui satu kesatuan tindak. Belakangan muncul pernyataan politik dari Organisasi Kerukunan Pelajar (OKP) Luwuk Banggai dipimpin Abdul Azis Larekeng. OKP menyampaikan aspirasinya kepada partai plitik yang berada di daerah juga lewat saluran formal DPR di Poso. Yang  mana Wakil Swapraja membentuk BPDO (Badan Penuntut Daerah Otonom) pada tanggal 17 Februari tahun 1956, terdiri dari tokoh partai politik dan unsur Pemerintah Swapraja Banggai.

Selanjutnya BPDO inilah yang mengirim delegasi ke pusat untuk memperjuangkan status Daerah Otonom Tingkat II Banggai. Dengan Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959 tanggal 4 Juli, bagian dari daerah Poso yang meliputi Anderfdeling Banggai dimaksud adalah Bigblad Nomor 14377 ad V Sub.3 yang meliputi bekas-bekas Swapraja Banggai yang dibentuk sebagai Daerah Swatantra Tingkat II Banggai atau Daswati II.

Pada tanggal 12 Desember tahun 1959 terjadilah serahterima pemerintahan dari raja terakhir Kerajaan Banggai, Syukuran Aminuddin Amir selaku pejabat Kepala Pemerintahan Negeri Banggai di Luwuk kepada Bupati Bidin. Serahterima berdasarkan Surat Keputusan Menteri P.U.O.D Nomor U.0.7/9/6 – 1042  tanggal 16 April tahun 1960 selaku pejabat Kepala Swatantra Tingkat II Banggai yang disaksikan Residen Koordinasi Sulawesi Tengah R.M.Khusno Dhanupugo.

Berdasarkan peraturan perundang-undangan Nomor 47 tanggal 13 Desember tahun 1960, Daswati II Banggai termasuk pada Provinsi Sulawesi Utara – Tengah. Pada masa jabatan Bupati Bidin, wilayah Kabupaten Banggai dibagi dalam dua Wedana yang disesuaikan dengan kondisi geografi. Berdasarkan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulaweai Tengah tanggal 4 Februari tahun 1961 Nomor Pemb./1/1961 antara lain :

a.  Kewedanan Banggai yang berkedudukan di Luwuk terdiri dari :

1.    Kecamatan Luwuk meliputi 5 (lima) Distrik masing-masing, Distrik Luwuk, Kintom, Batui, Lamala dan Distrik Balantak.

2.    Kecamatan Pagimana terdiri dari 2 (dua) Distrik Bunta dengan pusat kedudukan di Kecamatan Pagimana.

b.    Kewedanan Banggai Laut, berkedudukan di Banggai terdiri :

3.    Kecamatan Banggai meliputi 3 (tiga) Distrik masing-masing : Distrik Banggai, Labobo Bangkurung, dan Distrik Totikum berkedudukan di Kecamatan Banggai.

4.    Kecamatan Kepulauan Peling atau Tinangkung meliputi 4 (empat) Distrik masing-masing : Distrik Tinangkung, Bulagi, Buko dan Distrik Liang dengan pusat kedudukan di Salakan.

Adapun penyelenggaraan roda pemerintahan Tingkat II Banggai secara riil baru dimulai setelah Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banggai yang pertama dikukuhkan pada tanggal 8 Juli 1960, Tanggal 8 Juli. inilah yang  setiap tahun diperingati sebagai hari lahirnya Kabupaten Banggai.

Sumber : pariwisataluwukbanggai.com

Jurnal Penelitian: Evolusi Lari dari Masa Prasejarah hingga Modern

  Abstrak Lari merupakan aktivitas fisik fundamental bagi manusia yang telah berkembang dan beradaptasi selama ribuan tahun. Jurnal peneliti...